Jumat, 18 Desember 2009

Mahluk Manusia - Antropologi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui, bahwa dalam memahami asal usul manusia ada beberapa perbedaan pendapat diantaranya adalah pendapat C. Darwin dengan kaum muslimin. Dengan adanya perbedaan ini, C Darwin melakukan observasi dengan suatu penelitian. Dengan penelitian tersebut C. Darwin menemukan banyak persamaan antara manusia dengan kera. Maka dari itu C. Darwin menyimpulkan bahwa nenek moyang atau asal dari manusia itu dari binatang yaitu kera, beliau berpendapat seperti itu, karena C. Darwin membuktian dengan adanya suatu penelitian, sehingga beliau sangat optimis bahwa manusia itu dulunya berasal dari kera.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan makhluk manusia.
b. Apa yang di maksud dengan evolusi ciri-ciri biologi ?
c. Apa yang di maksud dengan evolusi primat dan manusia ?
d. Apa yang di maksud dengan aneka warna manusia ?
e. Apa yang di maksud dengan Organisma Manusia ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang makhluk manusia.
2. Untuk mengetahui tentang evolusi ciri-ciri biologi.
3. Untuk mengetahui tentang evolusi primat dan manusia.
4. Untuk mengetahui tentang aneka warna manusia.
5. Untuk mengetahui tentang Organisma Manusia.

BAB II
PEMBAHASAN

MAKHLUK MANUSIA

1. MAKHLUK MANUSIA DIANTARA MAKHLUK-MAKHLUK YANG LAIN

Di pandang dari sudut biologi manusia hanya merupakan suatu macam makhluk diantara lebih dari sejuta macam makhluk lain, yang pernah atau masih menduduki alam di dunia ini. Pada pertengahan abad ke-19 para ahli biologi, dan yang terpenting di antara mereka C. Darwin, mengumumkan teori mereka tentang proses evolusi biologi. Menurut teori-teori itu bentuk-bentuk hidup hidup tertua di muka bumi ini, terdiri dari makhluk-makhluk satu sel yang sangat sederhana seperti misalnya, Protozoa. Dalam jangka waktu beratus-ratus juta tahun lamanya timbul dan berkembang bentuk-bentuk hidup berupa makhluk-makhluk dengan organisasi yang makin lama makin kompleks, dan pada kala-kala terakhir ini telah berkembang atau berevolusi makhluk-makhluk seperti kera dan manusia.
Dalam proses evolusi biologi yang telah berlangsung sangat lama itu, banyak bentuk makhlu yang sederhana itu telah hilang dan punah dari muka bumi, akan tetapi banyak juga yang dapat bertahan macamnya dan hidup langsung sampai sekarang, sedangkan bentuk makhluk-makhluk baru yang bercabang dari bentuk-bentuk yang lama itu menjadi sekian banyaknya hingga jumlah macam makhluk yang sekarang menduduki bumi kita ini hampir mendekati angka satu juta.
Untuk mendapat suatu pengertia tentang jumlah aneka warna yang sebesar itu, para ahli biologi telah membuat suatu system klasifikasi di mana semua makhluk di dunia telah mendapat tempat yang sewajarnya berdasarkan atas morfologi dari organisasinya. Bersama dengan beribu-ribu macam makhluk lain, manusia menyusui keturunannya, dan berdasarkan atas ciri itulah manusia di kelaskan bersama mekhluk-makhluk lain tersebut ke dalam satu golongan, yitu yitu kelas bintang menyusui, atau mammalian, dalam kelas mammalian ini terdapat satu sub golongan atau suku, yaitu suku privat. Dalam suku ini, semua jenis kera, mulai dari yang kecil sebesar tupai seperti Tarsii, sampai kera-kera besar seperti gorilla, di kelaskan menjadi satu dengan manusia. Memang, sebelum zaman Darwin para ahli bilogi telah lama mengobservasi banyaknya persamaan cirri-ciri antara organisme kera dan organisme manusia. Suku primat di bagi menjadi dua sub-suku yakni sub-suku prosimii dan sub-suku Anthropoid, yang sebaliknya di bagi khusus menjadi tiga infra-suku : Infra-suku Hominoid. Infra-suku Ceboid menggolongkan menjadi satu semua kera, baik yang telah punah maupun yang masih hidup langsung di daerah tropik di benua Amerika, Infra-suku Cercopithecoid menggolongkan menjadi satu semua kera, baik yang sudah punah maupun yang masih hidup langsung di daerah tropik Benua Asia dan Afrika, sedangkan infra-suku Hominoid menggolongkan menjadi satu kera-kera besar dengan manusia. Infra-suku Homanoid kemudian di bagi menjadi khusus lagi ke dalam dua keluarga, yaitu keluarga Pongidae dan keluarga Hominoidae. Keluarga Pongidae menggolongkan menjadi satu beberapa macam kera besar yang teruma yang hidup di daerah tropik di Asia dan Afrika, seperti kera gibbon, orangutan, chimpanzee, dan gorilla, sedangkan keluarga Hominoidae menggolongkan menjadi satu manusia purba sejenis Pithecanthropus dengan homo Neanderthal dan dengan manusia sekarang, atau homo Sapiens. Adapun manusia homo sapiens zaman sekarang secara lebih khusus terdiri dari paling sedikit empat ras.


2. EVOLUSI CIRI-CIRI BIOLOGI

Sumber ciri-ciri Organisma fisi. Dalam proses evolusi itu bentuk-bgentuk makhluk yang baru timbul sebagai proses pencabangan dari bentuk-bentuk makhluk yang lebih tua. Dalam proses tersebut cirri-ciri biologi yang baru berwujud pada organisma suatu makhluk tertentu dan menyebabkan terjadinya bentuk yang agak berbeda dari bentuk organisma induk yang lama. Bentuk baru tadi terus berubah, dan dalam jangka waktu yang cukup lama perbedaan bentuk organisma makhluk induk yang lama dengan makhluk cabang yang baru makin lama makin besar.
Menurut ahli biologi ciri-ciri biologi itu bermaktub di dalam gen, atau dalam bahasa inggris disebut gene. Organisme dari makhluk hidup di dunia, tidak hanya makhluk satu sel tetapi juga kera atau manusia, terdiri dari sel. Pada makhluk hidup yang organismanya kompleks seperti kera atau manusia, jumlah sel mencapai sampai sepuluh triliun banyaknya, dan bentuk serta macam dari ke 10 triliun sel itu berbeda menurut fungsi dan tugasnya masing-masing dalam organisma. Meskipun begitu, setiap sel mempunyai inti yang sama. Setiap inti sel manusia misalnya, terdiri dari 46 bagian berupa ulat-ulat kecil yang terdiri dari serat-serat berspiral. Ulat-ulat kecil itu di sebut oleh para ahli biologi khromosom. Pada khomosom-khromosom inilah terletak beribu-ribu pusat kekuatan dengan berbagai macam struktur biokimia yang khas, yang menjadi sebab dari segala cirri organisma makhluk yang bersangkutan. Satu pusat kekuatan itulah yang disebut gen. Satu gen, atau kombinasi dari beberapa gen, menjadi penyebab dari satu ciri lahir dari organisma, sedangkan ada pula satu gen yang menjadi penyebab menjadi adanya beberapa ciri lahir. Sebenarnya para ahli biologi belum lama berselang mengembangka alat untuk mengobservasi dan meneliti gen manusia, yaitu mikroskop elektron, yang memiki daya pembesaran hingga dua juta kali kemampuan mata manusia. Pengetahuan para ahli mengenahi gen itu mula-mula berasal dari penelitian terhadap seekor makhluk yang memiliki suatu susunan inti sel yang sangat sederhana, yaitu lalat, yang terkenal dengan nama ilmiah Drisophilia Melanogaster. Lalat ini hanya memiliki delapan khromosom dalam inti selnya.
Pada waktu konsepsi,apa bila sel seperma terpadu dengan sel telur, maka akan terjadi suatu sel bual, atau Zygote. Seluruh tubuh organisma baru akan timbul dar zygote tadi, dengan suatu proses yang disebut dengan mitosis. Tiap-tiap khromosom akan membelah menjadi dua sehingga tibul dua sel baru. Kedua sel baru tadi, melalui proses yang sama, akan menjadi empat sel baru, kemudian keempat sel baru tadi, melalui proses yang sama akan menjadi delapan sel, dan demikian seterusnya hingga terjadi beberapa triliun sel yang merupakan bahan dari suatu organima lengkap.
Anggapan bahwa ciri-ciri tubuh tidak di turunkan melalui darah melainkan melalui saluran lain, sebenernya etlah lebih dari seabad lamanya di ajukan oleh seorang pendeta bangsa Austria bernama Gregor Mendel, yang hidup dalam suatu biara di Moravia. Secara empirikal dengan mengawinkan berpuluh puluh angkatan dari buah kapri dari pekarangan biara, ia mengobservasi proses menurunkan organisma dalam kenyataan alam. Kesimpulannya yang merupakan suatu teori tentang proses menurunkan ciri-ciri organisma itu di terbitkan dalam beberapa karangan sekitar tahun 1865. teoro Mendel mengenahi itu sekarang sudah cukup terkenal dan tak usah diterangkan lebih lanjut di sini. Mula-mula dunia ilmiah tidak sangat menaruh perhatian terhadap teori Mendel, dan perhatian baru timbul kembali ketika terbukti melalui penelitian gen itu, bahwa prinsip-prinsip proses menurunkan ciri-ciri organisma yang telah di ajukan Mendel sejak lama itu cocok dengan kenyataan. Suatu pengertian yang amat penting bagi kita adalah bahwa ciri-ciri yang lahir itu (fenotipe) tak usah sama dengan susunan ciri-ciri pada gen-gennya (genotipe).
Perubahan dalam proses keturunan. Dari uraian diatas terbukti bahwa suatu diri yang berasal dari suatu nenek moyang laki-laki mapun perempuan tak pernah ”di campur ”, tatapi selalu tetap dapat tersimpan dalam den yang diturunak dan yang di sebatkan kepada berpuluh-puluh angkatan, bahkan beratus-ratus angkatan berikutnya : hanya kekuatan dari gen lan yang dominan akan menyebabkan bahwa ciri-ciri tersebut tidak tampak lahir. Demikian dalam kenyataan yang kita lihat bahwa kelompok-kelompok manusia yang mula-mula berasal dari sepasang nenek moyang pada proses membanyak dan menyebar selalu mulai juga menunjukkan perbedaan-perbedaan ciri-ciri. Tentu timbul pertanyaan apakah sebenarnya, sumber kekuatan yang menyebabkan proses percabangan itu, ialah timbulnya gen dari nenek moyang, toh tetap tersimpan? Percabangan itu terjadi proses evaluasi menurut ahli biologi dapat dibagi menjadi 3 golongan :
1) Proses mutasi, adalah suatu proses yang berasal dari organisma.
2) Proses seleksi dan adaptasi, adalah suatu proses evolusio yang barasal dari sekitar alam.
3) Proses menghilangnya gen secara kebetulan, adalah disebabkan oleh adanya peristiwa yang tidak berasal dari organisma.

3. EVOLUSI PRIMAT DAN MANUSIA

Proses percabangan makhluk primat, manusia itu merupakan suatu jenis makhlu yang telah bercabang melalui proses evolusi dari semacam makhluk primat. Soal asal mula dan proses evolusi makhlukmanusia itu secara khusus dipelajari dan di teliti oleh suatu sub-ilmu dari antropologi biologi, yaitu ilmu paleoantropologi, dengan mempergunakan sebagai bahan penelitian bekas-bekas tubuh manusia yang berupa fosil yang terkandung dalam lapiasan-lapisan bumi. Namum karena manusia, seperti apa yang telah kita pelajaridi atas, hanya merupakan suatu cabang yang paling muda dari makhluk primat itu, maka soal asal mulanya serta proses evolusinya tidak dapat dilepaskandari seluruh proses percabangan dari makhluk-makhluk primat pada umumnya. Walaupun masih terjadi banyak peerbedaan pendapat antara para ahli paleoantropologi mengenahi berbagai aspek dari proses percabangan itu, tetapi akhir-akhir ini mereka telah sefaham mengenahi garis besar proses tersebut. Selain menganalisa data mengenahi fosil-fosil kera dan manusia yang tersimpan dalam lapisan bumi, mereka juga mempergunakan data ilmu-ilmu lain seperti paleogeografi (Ilmu bumi zaman purba), dan paleoekologi (Ilmu tentang lingkungan alam zaman purba), serta metode analisa potassium-argon (Metode analisa terbaru mengenahi umur dari lapisan-lapisan bumi) dari ilmu geologi.
Menurut penelitian para ahli makhluk pertama dari suku primat muncul di muka bumi dari suatu cabang makhluk mamalia, atau binatang menyusui kiri-kira 70000000 tahun yang lalu atau di sebut jaman paleosentua. Cabang yang ke dua yang timbul adalah permulaan miosen adalah kira-kira 20000000 tahun yang lalu yang di sebut orang utan. Cabang ke tiga yang menurut perkiraan para ahli menjedi nenek moyang manusia, kira-kira terjadi 10000000 tahun yang lalu pada bagian yang terakhir dari kalamiosen. Cabang ke empat adalah cabang-cabang kerapongid yang di sebut gorilla atau yang di sebut kipangce yang terjadi kira-kira 12000000 tahun yang lalu.
Bentuk-bentuk manusia tertua. Bumi Indonesia telah memberikan sumbangan sangat banyak kepada dunia ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah asal mula manusia, karena di dalam kandungannyalah di temukan bekas-bekas manusia yang tertua.
Setelah penemuan Du Bois di Trinil, yang dalam dunia ilmu paleoantropologi menjadi sangat terkenal, dalam tahun-tahun kemudian masih banyak di temukan lagi fosil-fosil jenis pithecantropus. Setelah fosil tersebut tidak terletak pada tempatnya yang semula, melainkan telah terbawa arus sungai dan di letakkan di tempat penemuannya, yang dengan demikian merupakan tempat penemuan deposit atau situs sekunder. Namun semua fosil tersebut di temukan dalam lapisan bumi yang seragam, yaitu lapisan yang dalam ilmu geologi di sebut lapisan pleistosen tengah yang umurnya di perkirakan antara 800000 hingga 200000 tahun
Manusia sekarang atau homo sapiens. Bekas-bekas hopmo sapien yang tertua juga terkandung dalam lapisan-lapisan pleistoen muda, yang berarti bahwa makhluk itu hidup pada akhir kala glasial terakhir, atau kurang lebih 80000 tahun yang lalu. Mulai zaman setelah itu yaitu zaman holozen, semua penemuan fosil manusia di temukan bersama bekas-bekas kebudayaan dan mulai menunjukan perbedaan keempat ras pokok yang pada saat itu menduduki muka bumi kita ini, yaitu : 1. Ras Australoid yang hampir kandas dan yang kini sisa-sisanya masih hidup di daerah pedalaman benua Australia. 2. Ras Mongoloid, yang kini malahan yang merupakan ras yang paling besar jumlahnya dan yang paling luas daerah penyebarannya. 3. Ras Kaukasoid, yang kini tersebar di Eropa, Afrika, di sebelah gurun sahara, di asia barat daya, di Australia, dan di benua Amerika utara dan selatan. 4. Ras Negoid, yang kini menduduki di benua Afrika sebelah selatan gurun sahara.
Makhluk homo sapien yang pertama-tama menunjukkan ciri-ciri ras negroid adalah makhluk yang fosilnya di temukan di tengah-tengah gurun sahara, di dekat asselar, kira-kira 400 km sebelah timur laut Timbuktu. Menurut para ahli paleoantropologi makhluk homo sapiens aselar ini, yang di anggap nenek moyang dari ras negroid, hidup hanya kira-kira 14000 tahun yang lalu. Ras negroid kini di anggap sebagai ras manusia yang paling muda.
Akhirnya dapat di sebut penemuan-penemuan fosil manusia di benua Amerika. Semua fosil yang di temukan di sana adalah fosil Homo Sapiens dari ras khusus Mongoloid Amerika. Fosil yang paling terkenal di antaranya adalah fosil dari Tapexpan dan fosil wanita yang di gali di Minnesota, yang umurnya tidak lebih dari 20000 tahun.

4. ANEKA WARNA MANUSIA

Salah faham mengenahi kondep Ras. Makhluk hidup yang tersebar di seluruh muka bumi dan yang hidup di dalam segala macam sekitar alam, menunjukkan suatu aneka warna fisik yang tampak nyata. Ciri-ciri seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk bagian-bagian muka, dan sebagainya menyebabkan bahwa aneka warna itu tampak dengan sekejap pandangan, dan meyebabkan timbulnya pengertian Ras, sebagai suatu golongan manusia yang menunjukkan berbagaiciri tubuh yang tertentu dengan suatu frekuensi yang besar.
Dalam sejarah bangsa-bangsa, konsepsi mengenahi aneka warna ciri tubuh manusia itu telah menyebabkan banyak kesedihan dan kesengsaraan, karena suatu salah salah faham besar yang hidup dalam pandangan manusia dalam berbagai pandanganmanusia berbagai bangsa. Salah faham itu mengacaukan ciri-ciri ras, (yang sebenanya harus di khususkan kepada ciri-ciri ajasmani semata-mata), dengan ciri-ciri rohani dan lebih dari itu, salah faham tadi memberikan penilaian tinggi rendah kepada ras-ras berdasarkan perbedaan tinggi-rendah rohani dari pada ras-ras itu. Dengan demikian timbul misalnya anggapan bahwa ras, Caucasoid atau ras kulit putih, lebih kuat dari pada misalnya ras-ras lain. Tetapi lebih dari itu ada anggapan bahwa ras kulit putih pada dasarnya juga lebih pandai, lebih maju, lebih luhur, pendeknya lebih tinggi rohaninya daripada ras-ras lainnya. Anggapan salah ini timbul bersama-sama dengan perkembangan kekuasaan bengsa-bangsa Eropa (yang kebetulan semuanya asal dari kulit putih itu), terhadap bangsa-bangsa lain di luar Eropa (Yang kebetulan untuk sebagian besar asal dari ras-ras bukan kulit putih), dan di praktekkan ke dalam suatu gejala sosial yang terdapat di banyak negara di dunia sampai sekarang ialah gejala deskriminasi ras.
Metode-metode untuk mengkelaskan aneka ras manusia. Untuk suatu waktu yang lama masalah bagaimana caranya mengklasifikasi atau menggolongkan aneka warna ras manusia di dunia merupakan pusat perhatian yang terpenting bagi ilmu antropologi fisik.
Dalam hal itu para sarjana terutama memperhatikan ciri-ciri lahir, atau ciri-ciri morfologi, pada tubuh individu-individu berbagai bangsa di dunia. Ciri-ciri morfologi itu yang dalam praktek merupakan ciri-ciri fenotipe, terdiri dari dua golongan, yaitu :
1. Ciri-ciri Kualitatif (seperti warna kulit, bentuk rambut, dan sebagainya)
2. Ciri-ciri Kuantitatif (Seperti, berat badan, ukuran badan, index caphalicus, dan sebagainya)
Untuk mengukur cirri-ciri kuantitatif tadi secara teliti, dalam ilmu antropologi fisik telah berkembang metode-metode pengukuran yang selalu dipertajam dan yang disebut metode-metode antopometri. Metode klasifikasi yang hanya berdasarkan morfologi ini kemudian ternyata kurang memuaskan, karena himpunan ciri-ciri pada idividu sesuatu kelompok manusia selalu terbukti sedemikian kompleknya hingga sukar di cakup ke dalam golongan-golongan khusus.
Akhir-akhir ini dalam ilmu antropologi fisik, klasifikasi yang hanya berdasarkan morfologi telah di anggap tidak begitu penting lagi, para sarjana sekarang lebih tertarik pada masalah sebab-sebab daripada perbedaan dan persamaan antara ras-ras manusia. Untuk membangun suatu klasifikasi serupa itu pengetahuan mengenahi cirri-ciri genotype amat penting. Cirri-ciri genotip dapat di ketahui pada gen yang tidak mudah di ubah oleh pengaruh proses-proses mutasi, seleksi, dsb. Contohnya gen adalah golongan darah A – B - C gen untuk tipe MN, gen kemampuan mencium bau zat karbomide dsb. Dengan demikian berkembangnya metode-metode untuk mengklasifikasikan ras-ras berdasarkan frekwensi golongan darah. Tentu di dalam suatu daerah terdapat individu-individu dari semua golongan darah, bahkan dari suatu keluarga inti ayah mungkin mempunyai darah A, ibu mempunyai darah O, anak-anak mungkin mempunyai darah AB ada yang O, dan sebagainya.
Dengan demikian apabila daerah daerah dengan presentase-presentase golongan darah yang sama itu di hubungkan dengan garis-garis di atas peta (esogenes), kita mungkin dapat membuat suatu gambaran dari bangsa-bangsa yang dahulu berasal dari satu nenek moyang.

5. ORGANISMA MANUSIA

Perbedaan organisma manusia an organisma binatang. Makhluk manusia adalah makhluk yang hidup dalam kelompok, dan mempunyai organisma yang secara biologis sangat kalah kemampuannyafisiknya dengan jenis-jenis binatang berkelompok yang lain. Walaupun demikian otak manusia telah berevolusi paling jauh jika di bandingkan dengan makhluk lain. Otak manusia yang telah di kembangkan oleh bahasa, tetapi yang juga mengembangkan bahasa mengandung keampuan akal, yaitu kemampuan untuk membentuk gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang makin lama makin tajam, untuk memilih alternative tindakan yang menguntungkanbagi kelangsungan hidup manusia. Gagasan-gagasan dan konsep-konsep itu dapat di komunikasikan dengan lambing-lambang vocal yang kita sebut bahasa, tidak hanya kepada individu-individu lain dalam kelompoknya, melainkan juga kepada keturunannya.
Bahasa menyebabkan bahwa manusia tidak hanya dapat belajar mengenahi keadaan sekitarnya dangan mengalami secara konkret peristiwa yang bersangkutan dengan keadaan-keadaan tadi, tetapi juga sezara abstrak tanpa menyelami sendiri peristia tersebut. Contohnya : sebagai manusia, kita misalnya tahu bahwa gigitan ular berbisa membawa maut, walaupun kita mungkin belum pernah mengalami peristiwa di gigit ular, atau secara konkret melihat manusia lain di gigit ular berbisa. Pengatahuan tadi kita miliki karena manusia lain pernah menceritakan mengenahi bahaya ular berbisa itu kepada kita, dan cara untuk menceritakan pengetahuannya kepada kita itu sudah tentu dengan menggunakan bahasa.
Dengan bahasa maka pengetahuan manusia berpuluh-puluh ribu generasi sejak zaman makhluk induk australlo pidhecus berkeliaran di daerah-daerah sabana, di Afrika selatan sampai sekarang. Karena pengetahuan itu lama-lama menjadi sedemikian banyaknya maka akibatnya adalah bahwa suatu individu tidak mampu menguasainya lagi, sehingga pengetahuan itu harus dibagi-bagi diantara individ individu lain dalam kelompoknya. Kemampuan organisme manusia memang terbatas jika di bandingkan makhluk-makhluk lain, dengan adanya pengaturan antara individu-individu dalam kelompok dan dengan adanya peralatan hidup, maka cara makhluk manusia mencari dan memproduksi pangannya di lakukan denga system tertentu diman terdapat pembagian kerja dengan demikian, kelompok manusia sejak dahulu kala telah memilki system dalam hal mata pencaharian hidupnya, yaitu system ekonomi.
Walaupun organisme memang kalah kemampuannya dengan banyak jenis binatang berkelompok lainnya, namun kemampuan otaknya yang kita sebut akal budi itu, yang menyebabkan berkembangnya sitem-sistem yang dapat membantu dan menyambung kemampuan organisme, ada tujuh system :
a. Perlambangan vocal atau bahasa,
b. System pengetahuan
c. Organisasi social
d. System peralatan hidup dan teknologi
e. System mata pencaharian hidup
f. System religi
g. Kesenian.
Hal tersebut di atas di sebut dengan kebudayaan manusia.
Kebudayaan manusia tidak terkandung dalam kapasitas organisma, artinya tidak tertentukan dalam system gennya, berbeda dengan kemampuan-kemampuan organisma binatang. Kemampuan berbagai jenis serangga untuk membuat berbagai macam sarang yang berpola indah misalnya, telah di tentukan oleh gen serangga bersangkutan. Sebaliknya, manusia harus mempelajari kebudayaannya sejak ia lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati, semuanya dengan jerih payah. Walaupun demikian, dengan kebudayaannya manusia dapat menjadi makhlik yang paling berkuasa dan berkembang biak paling luas di muka bumi ini.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan tersebut, yang di kemukakan oleh C. Darwin dapat di simpulkan bahwa sebenarnya manusia itu pada zaman dahulu berasal dari binatang yaitu kera. Dalam penelitian tersebut C. Darwin bisa dibuktikan dengan penelitiannya. Penelitian tersebut mencakup tentang makhluk manusia, evolusi ciri-ciri biologi, evolusi primat dan manusia, aneka warna manusia, dan tentang Organisma Manusia. Penelitian tersebut bisa di terima oleh semua manusia seluruh dunia, walaupun pernyataan tersebut bertentangan dengan umat muslim di dunia.

B. Saran
Dari pembahasan makalah di atas kita dapat mengetahui bahwa diantara beberapa macam pembahasan kita dapat mengambil manfaat, maka dari itu mari kita gunakan dengan sebaik- baik mungkin dari beberapa kegunaan mempelajari makhluk manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat, 1990, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, PT Rineka cipta,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar